
Sunday, March 22, 2009
Bab V
Kakiku memang telah sakit sewaktu memulakan pendakian, mungkin efek dari perjalanan 3km kemarin. Pendakian dimulai dengan meniti anak tangga yang dibuat dari semen. Ku tak pasti berapa panjangnya, namun itu sudah cukup melelahkan. Baru sepuluh menit ku berjalan, kami telah menghentikan sejenak perjalanan. Kami beristirahatt sejenak. “ baru sepuluh minit jalan dah letih, masih ade 6 jam lagi tau,” teriak ranger 1 dari depan. Memang pendakian mengambil masa paling cepat 4 jam. Setelah istirahat selama satu dua menit, kammi melanjutkan perjalanan. Anak tangga telah habis pada tahap ini, trek berubah menjadi tanah. Untung memihak kepada kami, hari tidak hujan pada malam sebelumnya, jadi tanah tidak becek.
Sebagai regu terakhir, aku dan phyo ditugaskan untuk berjalan paling akhir. Mengawal teman – teman yang lain dari belakang. Separuh perjalanan ke CP1, salah satu teman perempuan, Tan Li Peng, sudah terlalu penat. Dya terduduk di sebuah longgokan kayu. Sempat kumerasa simpati kepadanya, aku pun terduduk disampingnya bersama phyo, phyo menawarkan air mineral bermerek 7 elevennya, namun ditolak. Ku pandang ke atas, anggota perempuan yang lain ada yang berjalan sendirian, lantas kuambil keputusan untuk meninggalkan Li Peng dengan Phyo di belakang dan mengiringi yang lain ke atas.
Belum sempat sampai ke CP1, 2 lagi anggota telah terduduk. Alai dan entah syapa namanya, mengingat aku yang sudahpun mulai kelelahan, aku pun duduk dengan mereka sejenak. Entah sudah dimana anggota yang lain kami telah tertinggal. Tanpa membuang banyak waktu, aku berdiri sambil diikuti oleh 2 anggota yang terduduk tersebut. Kami pun meneruskan perjalanan itu dengan perlahan – lahan. Tidak lama setelah itu, sekitar 5 menit kemudian kami telah sampai ke CP1. Anggota – anggota dari regu – regu yang lain telah menunggu kami lumayan lama. Kami pun duduk sejenak dan menghilangkan dahaga.
Tidak lama setelah kami sampai, dengan terengah – engah Li Peng dan Phyo pun sampai. Sejenak kami bercerita tentang pengalaman pendakian peringkat awal kami. setelah semua merasa siap, kami pun beranjak dan bergerak ke CP2. Seperti awal saya dan phyo berada paling belakang didepan Ranger 3, Ah lai an Li peng berada paling depan.
Lagi – lagi walaupun mereka diletakkan di barisan depan, setengah perjalanan ke CP2 mereka telah berada di barisan belakang bersama kami. “ aiyoo,, mau pengsan lo.!” Seloroh Ah lai membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku lalu melaung kearah kelompok depan untuk menahan gerakan. Mereka tdk mengendahkan launganku, mereka tetap berjalan seakan tak peduli apa yang terjadi di belakang. Phyo dengan sabar memberi mereka semangat, dan kemudian kami bergerak perlahan.
Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah tanah merah yang menjadi pijakan kami lalui. Jalan terjal didepan masih menghantui fikiranku, 6 jam sedangkan kami baru bergerak sekitar setengah jam.
Aku sampai di CP2 lebih awal dari Phyo dan Li Peng, namun anggota – anggota yang lain telah sampai jauh lebih awal dariku. Li Peng menyerah pada titik itu, asmanya kambuh, kami tidak mahu mengambil resiko, maka dengan ditemani ranger kangen band, dia turun gunung untuk kembali ke kemah.
keadaan checkpoint tersebut lumayan luas maka kami mengambil keputusan untuk duduk sejenak dan menikmati coklat yang disarankan oleh para ranger. Coklat memang bagaikan sumber energy utama ketika itu, tak heran ada yang membawa sampai lebih dari 5 bar, namun aku tak membawa satu pun dan phyo menawarkan sedikit miliknya. Memang sekali lagi aku bilang, kesetiakawanan sangat bermain ketika itu.
Sekitar 5 menit kami habiskan di tempat tersebut, mengingat target sampai di puncak pada pukul 2 siang. Kami langsung bergerak kearah checkpoint 3 atau CP3. Jalan tidak begitu sulit pada tahap ini, jalan landai naik dan turun mewarnai namun lumayan jauh, satu jam untuk sampai ke CP3. Dalam perjalanan, kami dilewati oleh sekumpulan skuad komando. Aku kagum melihat mereka, keadaanku terengah – engah dengan separuh nafas, namun mereka mendaki dengan cara berlari. Mereka memberi semangat kepada kami, “ jom jom jom..!! ikut kite orang lari, lagi senang dek,” tetapi tidak ku hirauka, “ jalan aja susah, mau lari, ngehek loe bang,” sindirku dalam hati. “ aiyaa, they action only ma, belagak” tambah ka thiam.
Sekitar setengah jam perjalanan kami terhenti, Ah lai, sudah tak mampu. Dia menyerah kalah. Kami sempat berbincang sejenak siapa yang hendak menghantarnya kebawah karena ranger hanya tinggal 2 untuk mengawal 30 lebih orang. Secara mengejutkan dari belakang kami terdengar langkah cepat seseorang. Ranger kangen band..!! aku seakan tak percaya melihatnya. Jalan yang kami tempuh selama lebih sejam dapat dya tempuh dalam hitungan menit, dia baru saja menghantar Li Peng turun ke tempat perkemahan stengah jam yang lalu namun kini dia telah berada di belakangku. Melupakan kekagumanku, kita meneruskan perbincangan dan mengambil keputusan agar Ranger 2 – abang besar – yang menghantar Ah lai kebawah. Maka perjalanan kami teruskan.
Semangatku telah jatuh pada detik itu, mental ku pun telah runtuh melihat 2 teman seperjuangan menghentikan perjuangan mereka. Dengan terhenti – henti dan separuh nafas aku melanjutkan perjalanan. Teman terbaikku dalam camping ini kembali memainkan peranan penting, dia terus memberiku semangat, kadang – kadang dia pun berlari – lari kecil mencoba membakar semangat ku. Kadang kucoba membangkitkan sendiri semangatku dengan ikut berlari – lari kecil, tetapi tak berlangsung lama, skitar sekitar stiap 10 detik ku berlari ku akan berjalan selama satu dua menit baru ku bias berlari 10 detik lagi. Memang sebuah pendakian yang melelahkan.
Kami lagi – lagi sampai terakhir di CP3, waktu itu sekitar pukul 9 pagi. Matahari sampai ke tanah di tempat itu, akhirnya selama perjalanan aku bisa merasakan sentuhan hangat sang mentari. Tak lama waktu kita habiskan pada tempat itu. 2 jam waktu yang diperlukan untuk sampai ke checkpoint seterusnya, CP5. Ya, CP5 karena kita tidak melewati CP4 yang telah diambil alih oleh manajemen Gunung Ledang Resort. Maka kami pun beranjak setelah melakukan ritual wajib.
Jalan menuju CP5 tak banyak berbeda dari jalan ke CP3, jalan landai naik turun masih tetap mewarnai perjalananku. Memang tidak sulit namun melelahkan untuk berjalan tanpa henti selama 2 jam dalam lingkungan hutan. Suara – suara unggas serta serangga hutan beradu kuat dengan suara monyet putih entah apa namanya. Sesekali laba – laba sebesar jari jempol dan sekawanan semut sebesar buku ke-3 kelingking melintas di depanku. Jalan terjal di kedua belah, kiri jurang yang amat dalam dan kanan bukit yang lumayan tinggi. Konsentrasi sangat diperlukan, salah langkah dapat membawa maut, itu perkataan yang disematkan dalam diriku oleh ranger andika.
Semakin tinggi ku naik semakin tipis oksigen yang tersedia. Walaupun pohon – pohon berada di sekeliling ku, namun hokum tersebut dapat kurasakan, nafasku mulai pendek. Sesekali kuambil nafas panjang untuk menghlangkan pening yang bermain didalam kepala. Langkah demi langkah ku ambil, perlahan namun tak pasti. Detik demi detik ku lalui namun entah kapan akan kusampai.
Tak banyak yang terjadi dalam perjalan ke CP5 atau mungkin aku yang tak tahu, karena aku masih berada di belakang. Setelah kurang lebih 2 jam kita pun sampai di CP5. Tempat ini adalah tempat krusial. Karena tempat mengisi ulang air minum hanya ada di sini karena disinilah letaknya sungai yang lumayan besar. Sesampainnya di sana aku langsung berjalan ke sungai tersebut untuk minum, airnya jernih dan bersih. Aku menadah tangan dicelah – celah bebatuan untuk mengumpulkan air di telapak tanganku dan kuminum sekitar dua atau tiga tadahan sebelum membasahi muka serta rambutku untuk menghilangkan pening dan lelah. Sesuatu terjadi ketika aku meninggalkan sungai tersebut, kakiku kram dan aku terjatuh ke dalam sungai. Alhasil sepatu serta sebagian celanaku dibasahi oleh dinginnya air sungai tersebut.
Kramku tidak begitu parah, setelah sedikit stretching aku dapat kembali berdiri dan bejalan keatas, tempat dimana teman – temanku berkumpul. Seakan tak percaya kulihat teman – temanku sedang berfoto – foto ria dengan skuad komando yang mendaki dengan cara berlari tadi. Tak mahu melepaskan kesempatan, aku pun berlari untuk berfoto bersama mereka.setelah cukup mengambil beberapa foto bersama mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kami di CP5.
CP5 adalah tempat dimana kita menghabiskan waktu istirahat paling lama, waktu itu sekitar jam 12 siang. Kuambil beberapa paket granula bar dari tas punggungku yang dibawa oleh phyo. Tak kusangka popularitas granula bar sangat tinggi di situ, melihatku memakannya, beberapa teman2ku langsung mengerumuni untuk memintanya.
Setelah puas makan,minum dan beristirahat. Kami semua berkumpul untuk briefing.
“ siapa disini yang tidak membawa torch light.? Siapa disini yang tidak membawa raincoat.? Okay, kita telah lewat dari target. Menurut perkiraan saya, kita akan turun dalam delap, dan hari akan hujan. So, jangan makan banyak – banyak, jangan minum banyak, nanti perut sakit. Okay, siapa sudah penat.? Kalau sudah penat jangan fikir penat dulu, ni baru separuh perjalanan. Kita akan naik sampai CP8. So, get ready, bangun sekarang kerana kita akan masuk ke KFC”
Ya KFC, “KILLER FOR CLIMBER”
Alpha walked through the seasons at