
Sunday, March 22, 2009
Kicau burung nyaring terdengar di telinga ku mengiringi suasana yang tak ubah seperti malam sebelumnya. namun kali ini udara lebih segar dan angin sejuk berhembus dari arah seberang sungai. Ya Udara pagi di gunung ledang memang segar. Kubangun sekitar pukul 5 pagi bersama ketua regu2 yang lain setelah dibangunkan oleh suara lantang sang soldier boy, Hun Sen. Suasana seakan tak berubah pagi itu, sama seperti malam sebelumnya. Ku merasa seperti baru saja melewati sebuah lorong waktu.
Aku lantas membangunkan phyo sang raja masak. Dengan nada berat dia pun terbangun. Setelah mencuci muka dan lain lain. Kita berdua bergerak ke area masak di’ikuti ka thiam teman seregu ku juga. Semangat memasakku hilang ketika menyadari mencari kayu bakar dan daun kering dalam gelap sangat susah. Namun tetap ku coba mengingat tanggungjawab yang telah diberikan oleh pembimbing.
Dalam kegelapan ku menyuluh lampu senter eveready yang ku beli di Giant Hypermarket 2 hari sebelum berangkat. sesekali rasa takut terselit di dalam hati, aku takut jika sesuatu tersuluh di depanku, rambut panjang dengan jubah putih, hihihi. Namun kuberanikan diri dan ditemani oleh shaun teman seperjuanganku dalam mencari bahan bakar. Kami mencoba menyalakan api, api memang menyala, namun jika telah sampai ke tahap mempertahankan kobarannya..? tak dapat ku gambarkan betapa susahnya.
Setelah satu jam percobaan untuk memasak air yang gagal secara terus menerus, semangat dan tekadku mulai luntur. Ditambah lagi dengan goda’an teman2 dari regu lain yang telah meminum secangkir teh panas, mereka memasaknya menggunakan kompor gas. Akhirnya asa ku pun putus, ku berpura-pura berjalan kearah mereka, dan tanpa disangka dengan baik hatinya mereka menawarkan kepadaku secangkir teh panas, “alfa mari sini, teh banyiak panas, mari minum together,” pelawa mereka, sempat terharu mendengar ajakan mereka, namun memang dalam situasi seperti ini semangat kebersamaan memang meningkat dan keberadaannya sangat penting, sikap egois harus ditinggal jauh – jauh.
Pukul 6.45 hampir semua orang telah bersiap-sedia. Mayoritas orang tidak mandi pagi itu, bukan hanya karena air yang sangat sejuk namun juga karena kami tahu bahwa untuk mendaki gunung badan pasti akan dibasahi peluh, maka tiada gunanya mandi pagi. Setelah semua merasa siap, satu persatu kami bergerak ke HQ untuk deklarasi barang – barang yang dibawa. Penjagaan kebersihan dikawasan gunung tersebut memang ketat, smua barang yang dibawa harus diberitahu dan nanti akan dicek ulang setelah sampai turun gunung. Pagi itu aku hanya membawa sebuah tas punggung kecil untuk menyimpan jas hujan dan makanan makanan kecil yang lain.
15 menit kemudian, deklarasi telah selesai, sejenak kami berdo’a untuk keselamatan bersama. Fajar mulai menyingsing menunjukkan taringnya ketika kami mulai bergerak untuk memulakan pendakian. Seperti yang telah ditetapkan malam sebelumnya, pendakian dibagikan kedalam tiga kelompok dan setiap kelompok akan ditemani oleh satu ranger. reguku termasuk kedalam kelompok ketiga bersama regu Robert, kami pun bergerak terakhir ditemani oleh ranger yang berwajah seperti Andika, vokalis kangen band.
Alpha walked through the seasons at