
Saturday, March 21, 2009
BAB III
Lumayan puas aku berendam, satu jam sudah cukup buatku. Setelah mandi sore dan menyiapkan diri untuk malam ini. Aku mulai mencari kayu bakar serta daun –daun kering untuk persediaan makan malam sambil ditemani oleh matahari yang mulai bermain petak-umpet dengan sang rembulan, suara jangkrik yang mulai sahut – menyahut satu persatu, dan hari pun semakin gelap. Untuk menghemat waktu, aku dan phyo temanku lgsg memasak air untuk merebus mi instan, masakan wajib semasa camping. Asap tebal berwarna putih hasil dari pembakaran kayu dan daun2 kering pun mengepul di udara memenuhi ruang udara tapak perkemahan. Memasak dalam suasana begini bukannya mudah, konsentrasi sangat diperlukan untuk mengekalkan api yang telah dinyalakan.
Suasana malam semakin menyusup kedalam diriku, tiada sebarang lampu menerangi tempat tersebut karena pada malam itu kawasan tersebut memang sedang mengalami masalah teknis dengan system listriknya. Kami pun makan bersama – sama dibawah cahaya rembulan yang mencoba untuk menyelit diantara dedaunan pohon pohon hutan.
Selesai makan malam, aku bergerak menuju ruang rapat HQ untuk briefing aktifitas pada hari berikutnya, Mendaki Gunung Ledang..!!
Tidak lama, hanya sekitar setengah jam briefing telah selesai. Aku kembali ke perkemahan. Suasana masih sama seperti sebelumnya. Gelap, ditemani suara – suara serangga serta unggas hutan, dibawah remang cahaya sang rembulan. Namun suasana lumayan hidup malam itu. Secara berkumpulan, teman2 seperjuangan berkumpul dan berbincang. Nyanyian pun berkumandang beradu kuat dengan nyanyian alam.
Satu persatu mereka masuk ke dalam tenda regu masing – masing. Malam semakin sunyi dan nampaknya pemenang kontes menyanyi sudah terjawab, nyanyian alam, ya alam telah menunjukkan kuasanya. Malam lalu berubah sepi dari suara manusia namun kolaborasi alam terus bersuara.
Alpha walked through the seasons at